Fraktur atau patah tulang merupakan masalah yang
sangat menarik perhatian masyarakat. Banyak kejadian yang tidak terduga yang
dapat menyebabkan terjadinya fraktur, baik itu fraktur tertutup maupun fraktur
terbuka. Terjadinya kecelakaan secara tiba-tiba yang menyebabkan fraktur
seringkali membuat orang panik dan tidak tahu tindakan apa yang harus
dilakukan. Ini disebabkan tidak adanya kesiapan dan kurangnya pengetahuan
terhadap fraktur tersebut.
Seringkali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat,
mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia. Contohnya ada seseorang
yang mengalami fraktur. Tetapi, karena kurangnya pengetahuan dalam penanganan
pertolongan pertama terhadap fraktur, ia pergi ke dukun pijat karena mungkin ia
menganggap bahwa gejala fraktur mirip dengan gejala orang yang terkilir. Olehnya
itu, kita harus mengetahui paling tidak bagaimana penanganan pada korban
fraktur
2.1
TEORI M.LEININGER
A.
Definisi
Budaya
Budaya bisa diartikan dari berbagai
sudut pandang. Berdasarkan wujudnya misalnya, kebudayaan dapat digolongkan atas
dua komponen utama yaitu kebudayaan material dan nonmaterial. Kebudayaan
material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk
dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu
penggalian arkeologi : mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencangkup barang-barang seperti televisi, pesawat
terbang, stadion olah raga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari
generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau
tarian tradisional. Perilaku dari berbagai kelompok masyarakat dunia
berbeda-beda, perilaku tersebut akan membentuk budaya tertentu. Respon
masyarakat terhadap suatu peristiwa dalam kehidupan berbeda-beda bergantung
pada bagaimana kebiasaan sekelompok masyarakat tersebut dalam menangani
masalah. Setiap individu memiliki budaya baik disadari maupun tidak disadari, budaya
merupakan struktur dari kehidupan. Istilah budaya pertama kali didefinisikan
oleh antropolog Inggris Tylor tahun 1871 bahwa budaya yaitu semua yang termasuk
dalam pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat dan kebiasaan lain
yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat.( Brunner dan Suddart, 2001
). Sedangkan petter (1993) mendefinisikan budaya sebagai nilai-nilai,
kebudayaan sikap dan adat yang terbagi dalam suatu kelompok dan berlanjut dari
generasi ke generasi berikutnya. Budaya akan dipakai oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan nyaman dari wktu ke waktu tanpa memikirkan
rasionalisasinya.
Budayaan atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta
yaitu buddayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan disebut culture, yang berasal
dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga
sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan
sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan juga didefinisikan sebagai
rancangan hidup yang tercipta secara historis baik eksplisit maupun implisit,
rasional, irasional yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial
untuk prilaku manusia (kluckhohn dan kelly, dalam kessing, 1992). Menurut
swasono (1998), respon masyarat terhadap berbagai peristiwa kehidupan disebut
budaya. Dan budaya ini berbeda-beda pada berbagai kelompok di masyarakat.
Andrews dan Boyle (2003) mendefinisikan budaya dari Leininger (1978) bahwa
budaya adalah pengetahuan yang dipelajar dan disebarkan dengan nilai,
kepercayaan, aturan perilaku, dan praktik gaya hidup yang menjadi acuan bagi
kelompok tertentu dalam berpikir dan bertindak dengan cara yang terpola.
Purwasito (2003) menjelaskan bahwa kata budaya diambil dari bahasa sansekerta
buddayah yang berarti akal budi. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata budaya
bersinonimdengan kata ‘cuture’. Kata culture berasal dari bahasa latin
‘cultura’. Kata kultur atau kebudayaan adalah hasil kegiatan intelektual
manusia, suatu konsep mencangkup berbagai komponen yang digunakan oleh manusia
untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidupnya sehari-hari.Dari semua
definisi diatas jelaslah bahwa kultur atau memiliki karakteristik sendiri. Dari
berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan
yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pemikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu
bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan kebudayaan adalah benda-benda
yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku
dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa,
peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditunjukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.
B.
Karakteristik
Budaya
Boyle dan Andrews (1989), yang menggambarkan empat
ciri esensial budaya yaitu pertama, budaya dipelajari dan dipindahkan, orang
yang mempelajari budaya mereka sendiri sejak lahir. Kedua, budaya berbagi
bersama, anggota-anggota kelompok yang sama membagi budaya baik secara sadar
maupun tidak sadar, perilaku dalam kelompok merupakan bagian dari identitas
budayanya. Ketiga, budaya adalah adaptasi pada lingkungan yang mencerminkan
kondisi khusus pada sekelompok manusia seperti bentuk rumah, alat-alat dan
sebagainya.Adaptasi budaya pada negara maju diadopsi sesuai dengan tehnologi
yang tinggi. Keempat, budaya adalah proses yang selalu berubah dan dinamis,
berubah seiring kondisi kebutuhan kelompoknya, misalnya tentang partisipasi
wanita dan sebagainya.Penelitian batak Toba di Indonesia yang beradaptasi
dengan suku Sunda dengan merubah adat ketatnya karena menyesuaikan diri dengan
budaya setempat.
Menurut
Samovar dan Porter ( 1995 ) ada 6
karakteristik budaya :
1. Budaya itu bukan keturunan tapi dipelajari, jika seorang
anak lahir di Amerika dan hidup di Amerika dari orangtua yang berkebangsaan
Indonesia maka tidaklah secara otomatis anak itu dapat berbicara dengan bahasa
Indonesia tanpa ada proses pembelajaran oleh orangtuanya.
2. Budaya itu ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya, kita
mengetahui banyak hal tentang kehidupan yang berhubungan dengan budaya, karena
generasi sebelum kita mengajarkan kita tentang hal budaya tersebut. Contohnya
upacara penguburan pla centa bada masyarakat jawa, sehingga banyak masyarakat
yang mengikuti adat istiadat seperti itu.
3. Budaya itu berdasarkan simbol, untuk bisa mempelajari budaya orang memerlukan
symbol. Dengan simbol inilah nantinya kita dapat saling bertukar pikiran dan
komunikasi sehingga memungkinkan terjadinya proses transfer budaya dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Contoh beberapa simbol yang
mengkarakteristikan budaya adalah kalung pada suku dayak, manik-manik, gelang,
yang semua itu menandakan simbol pada budaya tertentu.
4.
Budaya
itu hal yang bisa berubah, karena budaya merupakan sistem yang dinamis dan
adaftif maka budaya rentan terhadap adanya perubahan. Misalnya pada sekelompok
masyarakat merayakan kelahiran dengan tumpeng atau nasi kuning, pada zaman
modern tradisi tersebut berubah menjadi kue ulang tahun untuk merayakan hari
kelahirannya.
5.
Budaya itu bersifat menyeluruh, satu elemen budaya dapat mempengaruhi
elemen-elemen budaya yang lain.
6. Budaya
itu etnosentris, adanya anggapan bahwa buadaya kitalah yang paling baik
diantara budaya-buadaya yang lain. Suku badui akan merasa budaya Badui yang
benar,apabila melihat perilaku budaya dari suku lain dianggap aneh, hal ini
terjadi pada kelompok suku yang lain.Meskipun tiap kelompok memiliki pola yang
dapat dilihat yang membantu membedakannya dengan kelompok lain,sebagian besar
individu juga mengungkapkan keyakinan atau sifat yang tidak sesuai dengan norma
kelompok. Seseorang bisa sangat tradisional dalam satu aspek dan sangat modern
dalam aspek lain. Ketika orang sakit, mereka kadang menjadi lebih tradisional
dalam harapan mereka dan pemikiran mereka. Juga ada variasi signifikan dengan
dan antara kelompok. Pengetahuan tentang kelompok juga bernilai ketika
memberikan sekumpulan harapan realistik. Tetapi,hanya belajar tentang individu
atau keluarga yang dihadapi sehingga tenaga medis dapat memahami dalam hal apa
pola kelompok bermakna (Leininger 2000).
C.
Perilaku
Budaya Kesehatan
Adat kebiasaan yang dikembangkan di suatu negara atau daerah, suku
atau sekelompok masyarakat merupakan praktek hidup budaya, Amerika, Australia,
dan negara lainnya termasuk Indonesia merupakan sebuah negara mempunyai
berbagai suku dan daerah dimana tiap suku atau daerah tersebut mempunyai adat
kebiasaan yang berbeda-beda dalam menangani masalah kesehatannya di masyarakat.
Ada perilaku manusia, cara interaksi yang dipengaruhi kesehatan dan penyakit
yang terkait dengan budaya, diantaranya adalah perilaku keluarga dalam
menghadapi kematian, Menurut Crist (1961) yang ditulis oleh Koentjaraningrat
(1990), dari hasil studi komaratifnya. Menyimpulkan bahwa ada perbedaan sikap
manusia dengan berbagai kebudayaan yang berbeda-beda dalam menghadapi maut. Menurut
Bendel (2003) di Indonesia terdapat pruralisme system pengobatan di mana
berbagai cara penyembuhan yang berbeda-beda hadir berdampingan termasuk humoral
medicine dan elemen magis. Indonesia merupakan negara yang terdiri dari
berbagai suku bangsa dimana tiap suku atau kelompok masyarakat tersebut akan
mempunyai norma, perilaku, adat istiadat yang berbeda-beda termasuk dalam
mencari penyembuhan yang terkait dengan perilaku budaya. Menurut Bendel (2003) dalam
masyarakat Indonesia terdapat kepercayaan tradisional pada hal-hal gaib.
D. Pengertian Transkultural
Bila
ditinjau dari makna kata , transkultural berasal dari kata trans dan culture,
Trans berarti luar perpindahan , jalan
lintas atau penghubung.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; trans berarti
melintang , melintas , menembus, melalui. Culture berarti budaya Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia kultur berarti :kebudayaan,cara pemeliharaan
pembudidayaan, Kepercayaan , nilai – nilai dan pola perilaku yang umum berlaku
bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya , sedangkan
cultural berarti: Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan. Budaya sendiri
berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat.Dan kebudayaan berarti :Hasil
kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan
kesenian dan adat istiadat. Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk
sosial yang digunakan untuk menjadi pedoman tingkah lakunyaJadi , transkultural
dapat diartikan sebagai : Lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang
satu mempengaruhi budaya yang lain,
Pertemuan kedua nilai–nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi
social. Menurut Leininger
(1991),Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan
dengan perbedaan maupun kesamaan nilai– nilai budaya yang mempengaruhi pada
seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien.
E.Konsep
Transkultural
Budaya
merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai
manusia yang bersifat sosial.Budaya yang berupa norma,adat istiadat menjadi
acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain.Pola kehidupan yang
berlangsung lama dalam suatu tempat,selalu diulangi,membuat manusia terikat
dalam proses yang dijalaninya. Keberlangsungaan terus – menerus dan lama
merupakan proses internalisasi dari suatu nilai – nilai yang mempengaruhi
pembentukan karakter,pola pikir,pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu
akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan.
Leininger
(2002), beberapa asumsi yang mendasari konsep transkultural berasal dari hasil
penelitian kualitatif tentang kultur, yang kemudian teori ini dipakai sebagai
pedoman untuk mencari culture care yang akan diaplikasikan. Human caring
merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan polanya
bervariasi diantara culture satu tempat dengan tempat yang lainnya. Caring act
dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada
individu secara utuh. Perilaku caring semestinya diberikan pada manusia sejak
lahir,masa perkembangan, masa pertumbuhan ,masa pertahanan sampai dikala
meninggal.
F. Peran dan Fungsi Transkultural
Budaya
mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting
bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat.Misalnya kebiasaan
hidup sehari – hari , seperti tidur , makan , kebersihan diri ,
pekerjaan,pergaulan social , praktik kesehatan , pendidikan anak, ekspresi
perasaan , hubungan kekeluargaaan, peranan masing – masing orang menurut umur .
Kultur juga terbagi dalam sub – kultur. Subkultur adalah kelompok pada suatu
kultur yang tidak seluruhnya mengaanut pandangan keompok kultur yang lebih
besar atau member makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga saling berkaitan
dengan kebiasaan cultural. Nilai – nilai budaya Timur , menyebabkan sulitnya
wanita yang hamil mendapat pelayanan dari dokter pria . Dalam beberapa setting,
lebih mudah menerima pelayanan kesehatan pre-natal dari dokter wanita dan bidan
. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur masih kental dengan hal – hal yang
dianggap tabu. Dalam tahun – tahun terakhir ini , makin ditekankan pentingknya
pengaruh kultur terhadap pelayanan perawatan.
Perawatan
Transkultural merupakan bidang yang relative baru ia berfokus pada studi
perbandingan nilai – nilai dan praktik budaya tentang kesehatan dan hubungannya
dengan perawatannya Leininger ( 1991 ) mengatakan bahwa transcultural nursing
merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan
nilai – nilai budaya (nilai budaya yang berbeda ras),yang mempengaruhi pada
seseorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada pasien. Perawatan
transkultural adalah berkaitan dengan praktik budaya yang ditujukan untuk
pemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional) Caring practices adalah kegiatan
perlindungan dan bantuan yang berkaitan dengan kesehatan.Menurut
Dr. Madelini Leininger, studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah
berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan
dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai
budaya ( kultur ) baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul
persamaan – persamaan. Lininger berpendapat , kombinasi pengetahuan tentang
pola praktik transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin
sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dan berbagai kultur.
G.
Paradigma Transkultural Nursing
Leininger (1985) mengartikan
paradigma keperawatan transkultural sebagai cara pandang, keyakinan,
nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya
asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat
konsep sentral keperawatan yaitu: manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan
(Andrewand Boyle, 1995) :
1. Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang
memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan
pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimana pun dia
berada (Geiger and Davidhizar, 1995).
3. Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu: fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan didalam Leininger menyajikan 3 tindakan yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu Cultural care preservation, accomodation dan repatterning
2.2 Proses Keperawatan Transkultural
Model konseptual yang dikembangkan oleh leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit ( sunrise model ). Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien ( Andrew and Boyle, 1995. Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada proses keperawatan transkultural.
2.3 Tahap Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada “Sunrise Model” yaitu:
1. Faktor teknologi (technological factors). Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji: persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
2. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and
philosophical factors). Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan
pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan
motivasi yangsangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan
di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat
adalah: agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap
penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif
terhadap kesehatan.
3. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kindship
and social factors). Perawat pada tahap ini harus mengkaji
faktor-faktor: nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal
lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam
keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
4. Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural
values and lifeways factors). Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang
dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk.
Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah: posisi
dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan,
kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit
berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
5. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political
and legal factors). Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku
adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap
ini adalah: peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung,
jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang
dirawat.
6. Faktor ekonomi (economical factors). Klien yang
dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki
untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.Faktor ekonomi yang harus
dikaji oleh perawat di antaranya: pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan,
tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi,
penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga
2.4 Tahap Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnose keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu: gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.
2.5 Tahap perencanaan dan pelaksaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan transkultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995).
Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu: mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengankesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan. Cultural care preservation/maintenance: a) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi b) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien; c) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat.Cultural care accomodation/negotiation: a) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien b) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan, c) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik. Cultual care repartening/reconstruction: a) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya; b) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok; c) Gunakan pihak ketiga bila perlu d) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua, e) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
2.6 Tahap Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
PEMBAHASAN KASUS
3.1 Kasus
An. A 8 tahun suku padang, beragama islam diantarkan orang tuanya di rumah sakit harapan kita dengan keluhan nyeri pada tulang keringnya. Bp.A mengatakan nyerinya timbul akibat An.A terjatuh dari pohon keramat didesanya, kemudian menurut kepercayaan orang sekitar An.A terjatuh akibat didorong oleh penunggu pohon keramat tersebut. Menurut cerita yang dikatakan Bp.A, saat anak nya jatuh An. A langsung dibawa ke dukun, lalu An.A dipijit menggunakan batang sereh yang di bakar dengan bacaan doa-doa. Bp.A mengatakan An.A dilarang mengkonsumsi makanan seperti ikan, daging, dan telur. Namun An.A masih tampak lemah, lesu, dan tampak kesakitan, pada saat di berikan perkes Bp.A masih terlihat kebingungan. Setelah dilakukan pemeriksaan melalui rontgen, pada hasil rontgen terlihat bahwa terdapat adanya retak pada tulang kering An. A.
3.2 Anatomi dan Fisiologi
A. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari pada yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Meskipun tulang patah , jaringan di sekitarnya juga akan terpengaruh mengakibatkan edema jaringang lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang (Burner at all, 2002). Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Donna L. Wong, 2004).
B. Anatomi Tulang
Gambar 1 Anatomi Fraktur Gambar
2 Anatomi Fraktur
Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak
dengan fraktur pada orang dewasa, perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik,
dan fisiologi tulang. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat
lempeng epifisis sebagai daerah pertumbuhan kongenital. Lempeng
epifisis ini akan menghilang pada dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini
akan menyatu pada saat itulah pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti.
Tulang
panjang terdiri dari : epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan
bagian paling atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian yang lebih
lebar dari ujung tulang panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis, sedangkan
diafisis merupakan bagian tulang panjang yang di bentuk dari pusat osifikasi
primer. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum,
yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses
pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai
arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan
berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah.Pada
anak, terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan.
Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan
menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa. Perbedaan
di atas menjelaskan perbedaan biomekanik tulang anak-anak dibandingkan orang dewasa,
yaitu :
1. Biomekanik
tulang
Tulang
anak-anak sangat porous, korteks berlubang-lubang dan sangat mudah dipotong
oleh karena kanalis Haversian menduduki sebagian besar tulang. Faktor ini
menyebabkan tulang anak-anak dapat menerima toleransi yang besar terhadap
deformasi tulang dibandingkan orang dewasa. Tulang orang dewasa sangat kompak
dan mudah mengalami tegangan dan tekanan sehingga tidak dapat menahan kompresi.
2.
Biomekanik lempeng pertumbuhan
Lempeng
pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat pada metafisis yang bagian
luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian dalamnya oleh procesus
mamilaris. Untuk memisahkan metafisis dan epifisis diperlukan kekuatan yang
besar. Tulang rawan lempeng epifisis mempunyai konsistensi seperti karet yang besar.
3.
Biomekanik periosteum
Periosteum
pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah mengalami robekan
dibandingkan orang dewasa.
Persendian
panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur,
terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang,
bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk
acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot.
Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip.
Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler
posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah
tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.
Pada
anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling yang lebih besar
dibandingkan pada orang dewasa, sehingga tulang pada anak-anak mempunyai
perbedaan fisiologi, yaitu :
1.
Pertumbuhan berlebihan (over growth)
Pertumbuhan
diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi pada pertumbuhan panjang,
karena tulang rawan lempeng epifisis mengalami hiperemi pada waktu
penyambungan.
2.
Deformitas yang progresif
Kerusakan
permanen pada lempeng epifisis akan terjadi pemendekan atau angulasi.
3.
Fraktur Total
Pada
anak-anak fraktur total jarang bersifat komunitif karena tulangnya sangat
fleksibel dibandingkan orang dewasa.
Fisiologi Tulang
Fungsi tulang adalah
sebagai berikut :
1. Mendukung jaringan
tubuh dan memberikan bentuk tubuh
2. Melindungi organ
tubuh ( misalnya jantung,otak,dan paru-paru) dan jaringan lunak
3.Memberikan pergerakan
(otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan
4.Membentuk sel-sel
darah merah didalam sum-sum tulang belakang ( hema topoiesis)
5. Menyimpan garam
mineral misalnya kalsium dan fosfor
C. Klasifikasi Fraktur
Ada
2 type dari fraktur femur, yaitu :
Fraktur
Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan Melalui
kepala femur (capital fraktur),Hanya di bawah kepala femur, Melalui leher dari
femur
Fraktur
Ekstrakapsuler Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang
lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter. Terjadi di bagian
distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter
kecil.
Fraktur
dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1.
Penyebab fraktur adalah trauma
Fraktur
patologis adalah fraktur yang
diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh
suatu proses yaitu :Osteoporosis Imperfekta,Osteoporosis dan Penyakit metabolic.
Trauma Dibagi menjadi dua, yaitu :
a.Trauma
langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi
miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras.
b.Trauma
tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya
jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.
2.
Non Trauma
Fraktur
terjadi karena kelemahan tulang akibat kelainan patologis didalam tulang, non
trauma ini bisa karena kelainan metabolik atau infeksi.
3.
Stress
Fraktur
stress terjadi karena trauma yang terus-menerus pada suatu tempat tertentu.
F.
Manifestasi Klinis
- Nyeri terus-menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema.
- Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah.
- Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur.
- Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
Pengkajian
dilakukan tanggal : 10 Mei 2012 Jam :
10.00 WIB
Tanggal
masuk : 9 Mei 2012 No.
CM : _
Ruangan : _ Ruangan : _
Identitas Pasien
Nama : An. A
Jenis
Kelamin :
Laki-laki
Usia : 8 Tahun
Status Perkawinan :
Belum Menikah
Agama : Islam
Suku
Bangsa : Indonesia
Pendidikan : SD
Bahasa
yang digunakan : Bahasa Indonesia
Pekerjaan : Pelajar
Alamat :
Jl. Samudra 37 Padang Sumbar
Diagnosa
Medis : Fraktur Tibia
( Retak tulang kering )
Penanggung Jawab
Nama : Bp.A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 35
Tahun
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Suku Bangsa : Indonesia
Pendidikan : Tamat SD
Bahasa yang digunakan : Indonesia
Pekerjaan : Kuli Bangunan
Alamat :
Jl. Samudera 37 Padang Sumbar
Hubungan Dengan Pasien : Ayah klien
Teori Sunrise model :
1. Faktor
Tekhnologi
a.
Persepsi Sehat
Sakit
Persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan
teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini adalah jarak
melakukan pemeriksaan kondisi klien kedokter maupun rumah sakit, biasanya
keluarga klien cukup datang ke dukun selain itu juga sering menkonsumsi obat
tradisional
b. Alasan mencari bantuan kesehatan
An.A mengatakan bahwa merasakan nyeri pada tulang
keringnya sehingga Klien & keluarga menggunakan angkot untuk mengantarkan
klien ke fasulitas kesehatan
c.Alasan klien memilih pengobatan
alternative
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien juga mengkonsumsi
obat selain obat yang diresepkan oleh dokter yaitu An.A dipijit menggunakan
batang sereh yang di bakar dengan bacaan doa-doa yang didapatkan dari
pengobatan tradisional. Karena klien merasa bahwa pengobatan tradisional yang
dia lakukan tidak ada perubahan sehingga keluarga klien membawa ke Rs Harapan
Kita , dan dari RS Harapan Kita , pasien disuruh untuk rawat inap di rumah
sakit pada tanggal 9 mei 2012 di ruang mawar Karena dari hasil pemeriksaan yang
telah didapatkan klien terdiagnosis medis Fraktur Tibia ( Retak Tulang Kering
).
d. Persepsi penggunaan dan pemanfaatan tekhnologi
Untuk memproses kesembuhan klien diharuskan mengikuti
terapi dari dokter yaitu Terapi.
2 Faktor Agama dan Filosofi
Agama yang dianut adalah islam, keyakinan agama tidak
bertentangan dengan kesehatan, klien & keluarga mempunyai pandangan bahwa
sakit yang diderita An.A akibat gangguan
dari makhluk gaib dan klien & keluarga biasanya datang kedukun dan meminta
do’a-do’a agar penyakitnya berkurang.
3. Faktor Sosial dan Ikatan Kekerabatan
Bp.A mengatakan keadaan anaknya sangat parah karena
tulang pada bagian tulang keringnya retak. An.A adalah anak dari pasangan Bp.A
dari tiga bersaudara dan An.A tinggal satu rumah dengan keluarganya.
4.
Faktor nilai budaya dan gaya hidup klien
suku
An.A adalah Minangkabau, Keluarga & Klien percaya pada kekuatan
supernatural. Mereka juga sangat percaya bahwa kekuatan dukun sangat ampuh.
Selain itu keluarga juga menggunakan obat tradisional seperti batang sereh yang
dibakar, air kelapa yang dibakar dicampur dengan garam lalu diminum , serta
jeruk nipis dicampur kecap lalu diminum.
5. Faktor hukum dan
kebijakan yang berlaku
Jam
berkunjung Klien pukul 09.00 sampai 17.00, jumlah anggota keluarga yang boleh
menunggu hanya kedua orang tua dan kerabat Klien cara pembayaran untuk klien
yang dirawat dengan hasil kerja kedua orang tua klien.
6. Faktor Ekonomi
Bp.A
seseorang yang berprofesi sebagai kuli bangunan. Sumber pembiayaan An.A untuk kesehatannya berasal dari hasil kerja
Bp.A dan keluarga klien tidak mengikuti program asuransi kesehatan.
7. Faktor pendidikan
An.A pada
saat ini masih duduk di Sekolah Dasar. Klien juga tidak memahami apa arti sehat
dan apa arti sakit yang sesungguhnya
3.4 DIAGNOSA KEPERAWATAN BIO,PSIKO,SOSIO,KULTURAL
NO
|
DATA
|
ANALISIS
DATA
|
Dx.KEPERAWATAN
BIO,PSIKO,SOSIAL, CULTURE
|
1.
2.
3.
|
Ds :An.A Mengatakan nyeri pada tulang
keringnya
Do:An.A Tampak lemas dan kesakitan
Ds : Bp.A mengatakan dukun desa melarang An.A untuk
mengosumsi ikan,daging, dan telur
Do: An.A masih Tampak Lemah dan
lesu
Ds
: Bp.A mengatakan setelah pijat oleh dukun desa An.A masih mengeluh nyeri
pada tulang keringnya
Do
: An.A tampak meringis kesakitan
|
P :
Gangguan rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran fragmen
tulang
E : Gangguan rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan Bp.A
mengatakan An.A terjatuh dari pohon
S : An.a tampak lesu,lemah,dan
meringis kesakitan.
P: Resiko terjadinya infeksi
berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi
E: Setelah An.A dibawa
kedukun Bp.A mengatakan dukun
desa melarang An.A untuk mengosumsi ikan,daging, dan telur
S: An.A masih tampak kesakitan
P: Kurangnya pengetahuan
tentang pengobatan terhadap tulang berhubungan dengan setelah jatuh An.A
dibawa kedukun untuk dipijat
E: An.A masih merasakan nyeri
S: An.A tampak lemas
|
Gangguan
rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang
Resiko terjadinya infeksi
pada struktur tulang dan jaringan lunak sekitarnya berhubungan dengan
kurangnya pemenuhan nutrisi tehadap An.A
Resiko tinggi cedera berhubungan dengan diskontinuitas tulang
|
3.5 INTERVENSI/ RENCANA
ASUHAN KEPERAWATAN
NO.
|
Dx. Keperawatan
|
Tujuan
|
Rencana Asuhan
Keperawatan/Interverensi
|
1.
|
Gangguan
rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang
|
Setelah dilakukan Asuhan
keperawatan selama 2x 24 jam tingkat
kenyamanan klien meningkat, tingkat
nyeri terkontrol dengan Kriteria Hasil:
a.Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 2-3
b.Ekspresi wajah tenang
c.klien dapat istirahat dan tidur
|
1.Kaji nyeri secara komprehensif
2.Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.
3.Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
klien sebelumnya.
4.Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan.
5.Kurangi faktor presipitasi nyeri.
Pilih dan lakukan penanganan
nyeri
6.Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengetasi nyeri.
7.Kolaborasi untuk pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.
8.Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.
|
2.
|
Resiko terjadinya infeksi
berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi terhadap An.A
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, maka kebutuhan nutrisi
terpenuhi dengan criteria hasil :
1. Klien tidak terlihat lemah dan lesu
2. Klien dan
keluarga menerima penjelasan dari perawat tentang kebutuhan nutrisi dan manfaat nutrisi terhadap luka An.A
3. Tidak terjadi infeksi terhadap
fraktur klien
4.Pemenuhan nutrisi tercukupi
|
1.Kaji
Nutrisi secara teratur
2.Gunakan
komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nutrisi klien
3.
Berikan penjelasan pada klien dan keluarga mengenai pentingnya nutrisi bagi
proses penyembuhan fraktur klien
4.
Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga mengenai kepercayaan keluarga
pada dukun terhadap pemenuhan nutrisi klien.
5.
Ajarkan Pola makan dengan nutrisi yang baik
6.
Kolaborasi dengan Dokter
7.Evaluasi
tindakan dalam pemberian nutrisi
|
3.
|
Resiko tinggi cidera berhubungan dengan kontinuitas tulang
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam terjadi peningkatan
Status keselamatan Injuri fisik dengan Kriteria Hasil :
a.Bebas dari cidera
b.Mampu mencegah cidera
c.
Dapat melakukan mobilisasi dengan baik
|
1.Berikan posisi yang aman untuk pasien dengan
meningkatkan
2.obsevasi pasien, beri pengaman tempat tidur
3Periksa sirkulasi perifer dan status neurologi
4.Menilai ROM pasien
5.Menilai integritas kulit pasien.
6.Libatkan banyak orang dalam memindahkan pasien, atur
posisi pasien yang nyaman
|
3.6 IMPLEMENTASI
Diagnosa
ke 1
Gangguan
rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang
Pukul : 12.00 WIB
Tanggal : 10/05/2013
Implementasi :
1.
Mengkaji Tanda-Tanda vital
2.
Mengkaji skala nyeri
3.Observasi
reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan
4.Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman
nyeri klien sebelumnya.
5. Mengompres dengan air hangat dibagian nyeri
6. Kurangi factor presipitasi nyeri
7. Berikan informasi tentang penyakitnya
8. Kolaborasi dengan tim dokter dalam terapi pemberian obat
9. Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri
Diagnosa
ke 2
Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan kurangnya pemenuhan
nutrisi terhadap An.A.
Pukul : 15.00 WIB
Tanggal : 10/05/2013
Implementasi :
1. Mengkaji nutrisi secara
teratur
2. Gunakan komunikasi
terapeutik untuk mengetahui pengalaman nutrisi klien
3. Ajarkan pola makan dengan
nutrisi yang baik
4. Mengobservasi kebutuhan
klien
5. Meninjau kecukupan nutrisi
klien
6. Mengidentifikasi asupan
nutrisi
7. Evaluasi tindakan dalam pemberian
nutrisi
Diagnosa ke 3
Resiko tinggi cidera berhubungan dengan kontinuitas tulang.
Pukul : 17.00 WIB
Tanggal : 10/05/2013
Implementasi :
1. Berikan posisi yang aman
untuk pasien dengan meningkatkan observasi pasien dan beri pengaman tempat
tidur
2. Menilai ROM pasien
3. Menilai integritas kulit
pasien
4. Lakukan mobilisasi fisik
5. Libatkan partner paramedis
dalam memindahkan pasien, atur posisi pasien yang nyaman
Dx. KEPERAWATAN
|
EVALUASI
|
||
Gangguan
rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang
|
Pukul
10.00 WIB
Tanggal
10/05/2012
S:
Klien tidak merasakan nyeri lagi pada tulang keringnya
O:
Klien tampak tenang
A:
Tujuan tercapai
P:
Hentikan Intervensi
|
||
Resiko terjadinya infeksi
berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi terhadap An.A
|
Pukul 14.00 WIB,
Tanggal 10/05/2012
S :Klien
mengatakan nafsu makan bertambah
O :Klien masih
tampak lemah dan lesu
A : tujuan belum
tercapai.
P : lanjutkan
intervensi :
I : 1. Observasi kebutuhan nutrisi klien 2. Tinjau kecukupan nutrisi klien 3. Identifikasi Acupan nutrisi |
||
Resiko
tinggi cidera berhubungan dengan kontinuitas tulang
|
Pukul
10.30 WIB
Tanggal
10/05/2012
S:
Klien mengatakan sudah tidak merasakan sakit
O:
Klien tampak lemas
A:
Tujuan Belum Tercapai
P:
Lanjutkan Intervensi
I
:
1.Berikan posisi yang aman
untuk pasien dengan meningkatkan 2.obsevasi pasien, beri pengaman tempat
tidur
2.Menilai ROM pasien
3.Melakukan
mobilisasi
|
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang
dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat terjadi jika tulang
dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsi.
Patah tulang
umumnya digolongkan dalam 2 macam, yaitu fraktur terbuka dan tertutup. Pada
fraktur tertutup, tulang yang patah tidak sampai keluar melewati kulit.
Sedangkan patah tulang terbuka, sebagian atau keseluruhan tulang yang patah
terlihat menembus kulit.
Fraktur dapat
disebabkan karena : peristiwa trauma,peristiwa kelelahan atau tekanan dan kelemahan pada tulang
Fisioterapi sangat berperan dalam gangguan
gerak dan fungsi sendi akibat patah tulang, baik penanganan setelah operasi
ataupun konservatif (non operatif) dengan modalitas yang dimiliki.